JAKARTA – Band alternative rock asal Jakarta, Fleeting Echo, baru saja merilis single terbaru mereka yang berjudul “Surrender”.
Lagu ini menggambarkan rasa jenuh dan tekanan dalam karir, sebuah tema yang pasti banyak dirasakan oleh pekerja kantoran.
Menurut Hendy Yudhistira, gitaris dan penulis lagu “Surrender”, lagu ini terinspirasi dari realita dunia kerja yang sering kali menekan karyawan dari berbagai arah.
“Surrender ini intinya tentang kejenuhan dalam karir, sih. Kayak ditekan dari segala arah. Dan walaupun udah kontribusi banyak, kita cuma dilihat sebagai statistik,” jelas Hendy.
Lirik-lirik seperti “Is it all I am a faceless?” dan “Is it all we are, perpetual, a cog in the machine?” mencerminkan curahan hati para karyawan yang merasa hanya dianggap sebagai angka statistik.
Musik agresif yang disajikan dalam “Surrender” berhasil menggambarkan kemarahan dan frustrasi terhadap fenomena dunia perkantoran saat ini.
Mulai dari PHK tanpa pesangon, pemaksaan pengunduran diri dengan cara yang tidak nyaman, hingga lingkungan kerja yang toxic dan mengglorifikasi “kerja keras”.
Semua ini dikritisi dengan tajam melalui lagu ini, yang pasti akan resonan dengan banyak pendengar yang pernah merasakan hal serupa.
“Surrender” sudah bisa didengarkan di berbagai platform streaming, dan video liriknya juga tersedia di kanal YouTube mereka. Jangan lupa juga untuk mendengarkan lagu mereka yang dirilis tahun lalu, “Lead the Way”.
Fleeting Echo adalah band alternative rock dari Jakarta, Indonesia, yang dibentuk pada Desember 2022.
Musik mereka menangkap emosi bitter-sweet dalam sebuah perpisahan melalui suara yang kuat dan penuh emosi.
Band ini terdiri dari Hendy Yudhistira pada gitar, Adhiwira Gautama pada vokal dan gitar, Faishal Arif pada drum, dan Adi Anugrah pada bass.
Suara unik Fleeting Echo dipengaruhi oleh kepribadian masing-masing anggotanya, menciptakan harmoni yang khas dan menggugah emosi. [ian]












Leave a Reply