KEDIRI – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Iskandar, tak kuasa menahan air mata saat mengenang sosok almarhum KH Douglas Toha Yahya, atau yang lebih akrab dikenal sebagai Gus Lik. Ia mengungkapkan bahwa Gus Lik memiliki kelebihan istimewa yang dianugerahkan Allah SWT, sebuah rahasia ilahi yang tidak dimiliki oleh sembarang orang.
“Adik saya ini, kalau soal mengaji, sama saja dengan ulama lainnya. Tapi ada sirr dari Allah. Ada rahasia yang hanya diberikan kepada orang-orang terpilih. Saya yakin, Pak Lik adalah salah satu yang diberikan sirr, sebuah rahasia yang khusus untuk hamba-hamba yang dikasihi Allah,” ujar KH Anwar Iskandar, Sabtu malam, 21 September 2024, setelah menerima kabar duka kepergian Gus Lik.
Sir merupakan istilah dalam tradisi sufi yang merujuk pada suara gaib atau rahasia dari Allah SWT, yang tersembunyi di dalam ruh. Hal ini diyakini sebagai karunia ilahi yang mampu membawa seseorang mencapai musyahadah, yaitu persaksian langsung akan keindahan dan kebesaran Allah SWT.
Gus Lik, yang wafat pada usia 66 tahun, adalah sosok ulama yang sangat dekat dengan KH Anwar Iskandar, atau yang akrab disapa Gus War. Selain hubungan sebagai kakak ipar, keduanya juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren Assa’idiyah Jamsaren, Kota Kediri. Dalam prosesi pemakaman yang dilangsungkan di area Langgar Kulon pondok tersebut, Gus War menceritakan secara mendalam bagaimana kehidupan sehari-hari almarhum yang sangat sederhana dan penuh pengabdian terhadap agama Islam.
“Pak Lik ini tidak pernah memikirkan hal-hal duniawi. Tidak peduli soal harta, istri, atau anak. Hatinya hanya tertuju pada satu hal: agama Islam,” jelas Gus War saat memberikan sambutan di pemakaman.
Gus Lik memilih untuk tidak berkeluarga sepanjang hidupnya. Fokusnya adalah mengabdikan diri sepenuhnya kepada ilmu agama dan menyebarkannya kepada santri-santri di pondok dan masyarakat luas. Dedikasinya terhadap pengajaran agama dan sikapnya yang tidak pernah memikirkan kepentingan pribadi menjadi salah satu warisan yang akan selalu diingat oleh banyak orang, khususnya di kalangan santri dan masyarakat yang pernah merasakan keberkahan dari ilmunya.
Kepergian Gus Lik tidak hanya menjadi kehilangan besar bagi keluarga dan pesantren, tetapi juga bagi dunia keagamaan di Kediri. Sosoknya yang karismatik, rendah hati, dan ikhlas dalam mengajar agama telah meninggalkan jejak yang mendalam di hati banyak orang.







Leave a Reply