Menu

Mode Gelap

Bisnis · 21 Oct 2024 11:47 WIB ·

10 Tahun Kemiskinan Hanya Turun 0,80 Persen, PR dari Mas Abu untuk Calon Wali Kota Kediri


 Potret manusia silver di traffic light Kota Kediri. Perbesar

Potret manusia silver di traffic light Kota Kediri.

KEDIRI– Pekerjaan rumah dalam pengentasan semestinya harus menjadi prioritas calon Wali Kota Kediri 2024-2029. Selama 10 tahun terakhir, kemiskinan di Kota Kediri hanya turun 0,80 persen. Padahal dalam 10 tahun tersebut program pemberdayaan masyarakat (Prodamas) sudah digelontorkan untuk masyarakat Kota Kediri. Prodamas selalu diembuskan sebagai program unggulan Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar 2014-2023.
Data termutakhir sesuai Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri, pada 2014 tingkat kemiskinan di Kota Kediri tercatat 22,13 ribu orang atau 7,95 persen dari jumlah penduduk. Dengan garis kemiskinan Rp 366.788,- penghasilan perbulan. Pada tahun 2023, sekitar 21 ribu jiwa atau 7,15 persen dengan penghasilan Rp 587.723,- tercatat tergolong masyarakat miskin. Berikut data dari BPS Kota Kediri tentang kemiskinan di Kota Kediri:

TahunGaris Kemiskinan (rupiah)Jumlah Total (jiwa)Persentase
2014Rp 366.788,-22,13 ribu jiwa7,95
2015Rp 386.521,-23,77 ribu jiwa8,51
2016Rp 400.096,-23,64 ribu jiwa8,40
2017Rp 420.712,-24,07 ribu jiwa8,49
2018Rp 453.807,-21,90 ribu jiwa7,68
2019Rp 471.893,-20,54 ribu jiwa7,16
2020Rp 493.438,-22,19 ribu jiwa7,69
2021Rp 506.936,-22,55 ribu jiwa7,75
2022Rp 537.326,-21,15 ribu jiwa7,23
2023Rp 587.723,-21,03 ribu jiwa7,15

Belum lagi, angka kemiskinan ekstrem di Kota Kediri mencapai 3.002 orang dalam rilis Pemerintah Kota Kediri awal September 2024 lalu. Artinya, jumlah kemiskinan ekstrem di Kota Kediri sekitar 0,99 persen dari jumlah penduduk 298.820 orang sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS).

Guru besar sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi menilai kemiskinan memang harus menjadi prioritas para calon kepala daerah. Hal ini dikarenakan, perintah konstitusi dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 ialah mencerdaskan kehidupan bangsa dan memelihara fakir miskin.

Artinya, Wahyudi memberikan pandangan bahwa pembangunan fisik kota harus simultan atau beriringan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat.

“Bila tidak berjalan bersama, maka bisa jadi itu ialah anomali pembangunan. Untuk apa pembangunan insfrastruktur atau fisik maju tapi tingkat kemiskinan masyarakat tinggi. PR ini sangat mendesak,” ungkap Wahyudi.

Dalam pengentasan kemiskinan, kata Wahyudi, pemberdayaan masyarakat harus dijalankan dengan berkelanjutan. Wahyudi menyarankan kepada kepala daerah agar tidak hanya memberikan bantuan yang sifatnya instan. Hal itu akan menyebabkan ketergantungan terlalu tinggi dan membuat masyarakat semakin tidak mandiri.

“Memang sedang tren kan memberi bantuan instan-instan seperti itu, tapi yang lebih penting bagaimana masyarakat mandiri untuk menghadapi tantangan zaman,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 67 kali

badge-check

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Lainnya

Pemkot Kediri Tindaklanjuti Ekosistem Halal, Cek Lokasi Sembelih Unggas di Pasar Banjaran

4 June 2025 - 18:38 WIB

oktana.co.id

Penguatan Ekosistem Halal, Kolaborasi Pemkot Kediri dan BI Gelar Pelatihan Juleha Unggas

3 June 2025 - 19:44 WIB

oktana.co.id

IAIN Kediri Resmi Berubah Menjadi UIN Syekh Wasil

26 May 2025 - 11:41 WIB

oktana.co.id

Kota Kediri Pesta Gol 6-0 di Laga Perdana Pra Porprov Jatim IX 2025

23 May 2025 - 11:44 WIB

oktana.co.id

Lifter Asal Kediri, Bima Aji Ramadhani Sumbang 1 Perak dan 2 Perunggu di Kejurnas Angkat Besi Senior 2025

19 May 2025 - 11:46 WIB

oktana.co.id

Hari Buku Nasional, Terungkap Penerbit Buku Tertua di Indonesia Berasal dari Kediri

17 May 2025 - 12:10 WIB

oktana.co.id
Trending di Lifestyle