KEDIRI– Upaya menurunkan tingkat kemiskinan di Kota Kediri memang tidak mudah. Dalam 10 tahun terakhir, tingkat kemiskinan Kota Kediri hanya 0,80 persen atau hanya sekitar 1.100 jiwa. Hal ini disebut Dinas Sosial (Dinsos) sudah tergolong besar dalam upaya penurunan kemiskinan. Sedangkan, kemiskinan ekstrem yang terjadi di Kota Kediri pada September 2024 lalu tercatat 3.002 jiwa. Rata-rata setiap tahunnya, penurunan kemiskinan hanya sekitar 110 orang.
Kepala Dinsos Kota Kediri, Paulus Luhur Budi mengungkapkan selama 10 tahun tersebut, tingkat kemiskinan bergerak secara dinamis dan fluktuatif. Dinamika tersebut dipengaruhi sejumlah hal. Baik itu dari sisi indikator penghitungan itu sendiri, ataupun faktor yang ada terjadi di masyarakat.
“Angka (0,80 persen) itu kurang lebih mewakili 2 ribu sekian. Menurunkan 2 ribu itu sudah besar. Apalagi angka kemiskinan,” tuturnya.
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri, pada 2014 tingkat kemiskinan di Kota Kediri adalah 22,13 ribu orang atau 7,95 persen dari jumlah penduduk. Dengan garis kemiskinan Rp 366.788,- penghasilan perbulan.
Kemudian pada tahun 2023, tingkat kemiskinan menjadi sekitar 21 ribu jiwa atau 7,15 persen dari jumlah penduduk dengan penghasilan Rp 587.723,- tercatat tergolong masyarakat miskin.
Padahal dalam 10 tahun itu, Pemerintah Kota Kediri di bawah kepemimpinan Abdullah Abu Bakar telah melaksanakan Program Pemberdayaan Masyarakat (Prodamas). Menurut Paulus, ada sejumlah faktor yang menghambat penurunan angka kemiskinan menurutnya ada beberapa hal mulai dari bencana, kondisi APBD yang membuat bantuan berkurang serta efektivitas program-program penurunan kemiskinan.
Selain itu dalam selang waktu 10 tahun tersebut, Kota Kediri juga ikut terdampak pandemi covid-19, yang mulai terjadi pada sekitar akhir tahun 2019 sampai tahun 2022. Paulus menuturkan dalam usaha untuk menurunkan angka kemiskinan, semua program yang bertujuan untuk hal tersebut memiliki peran masing-masing dan sasaran masing-masing.
Program seperti bantuan modal dan pelatihan, semua berkolaborasi dan bersinergi untuk mencapai tujuan penurunan angka kemiskinan.
“Semua bergerak secara simultan, semua dilaksanakan bersama-sama. Tidak ada salah satu yang menonjol, semua program dijalankan,” jelasnya.
Di sisi lain, menurut Paulus, tingkat kemiskinan tersebut didominasi dari kalangan masyarakat non produktif. “Rata-rata lansia dan disabilitas,” ujarnya.







Leave a Reply