SURABAYA – Calon Gubernur Jawa Timur, Luluk Nur Hamidah, menyampaikan keprihatinannya terkait peningkatan angka pengangguran terbuka di provinsi tersebut, yang sebagian besar dipicu oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dalam debat kedua Pilgub Jatim di Grand City Convention, Surabaya, Minggu lalu, Luluk menyoroti permasalahan yang terjadi di sektor pendidikan vokasi.
“Angka pengangguran terbuka di Jatim justru didominasi oleh lulusan SMK. Ini menandakan adanya masalah mendasar dalam sistem pendidikan vokasi yang berjalan saat ini,” ujar Luluk, menanggapi pernyataan calon petahana, Khofifah Indar Parawansa.
Menurut Luluk, ketimpangan antara tujuan pendidikan SMK dan realitas lapangan kerja menjadi faktor yang perlu segera dibenahi. Ia menilai klaim keberhasilan dalam pengembangan SMK di Jawa Timur masih jauh dari harapan, mengingat banyaknya lulusan yang kesulitan mendapat pekerjaan yang sesuai.
“Realitas ini cukup paradoks dengan klaim kesuksesan pengembangan SMK yang disampaikan,” lanjutnya.
Luluk menegaskan bahwa kurangnya perencanaan matang dalam pengembangan SMK turut memengaruhi tingginya pengangguran lulusan SMK. Ia menyatakan, minimnya studi kebutuhan industri di daerah menjadi akar dari persoalan ini.
“Tidak ada perencanaan yang berbasis analisis kebutuhan industri dan ekosistem, sehingga lulusan SMK tak terarah dalam memenuhi kebutuhan lapangan kerja,” paparnya.
Untuk mengatasi masalah ini, Luluk mengusulkan pembentukan dewan pakar yang akan bekerja sama dengan pemerintah dan pihak terkait. Langkah ini, menurutnya, dapat menciptakan kurikulum yang relevan dan mampu menjawab tuntutan pasar kerja di Jawa Timur.
“Melalui dewan pakar, kita bisa mengembangkan kurikulum vokasi yang sesuai dengan kebutuhan industri, sehingga lulusan SMK siap bersaing,” tegas Luluk.
Luluk optimistis, perubahan di sektor pendidikan vokasi ini bisa menurunkan angka pengangguran, sekaligus menciptakan sumber daya manusia yang kompeten dan siap kerja di Jawa Timur.







Leave a Reply