KEDIRI – Pemerintah Kota Kediri, Jawa Timur, menyatakan bahwa pola konsumsi masyarakat di kota ini tetap stabil, meskipun terjadi kenaikan harga sejumlah bahan pokok, seperti daging ayam ras, bawang merah, dan telur ayam. Hal ini terjadi setelah sebelumnya kota ini mengalami deflasi selama lima bulan berturut-turut.
Kepala Bagian Administrasi Perekonomian Pemkot Kediri, Tetuko Erwin Sukarno, menjelaskan bahwa kenaikan harga komoditas pokok pada Oktober 2024 menandakan konsumsi masyarakat mulai kembali normal. Ia menyebutkan bahwa kondisi ini selaras dengan inflasi yang terjadi secara nasional dan di beberapa daerah di Jawa Timur, menandakan pemulihan aktivitas pasar.
“Inflasi yang kita alami saat ini merupakan indikasi bahwa pola konsumsi masyarakat kembali normal, setelah sebelumnya kita mengalami deflasi selama lima bulan berturut-turut,” ungkap Erwin di Kediri, Rabu (6/11/2024).
Dalam laporan inflasi, Pemkot Kediri mencatat harga daging ayam ras di pasar tradisional mencapai Rp35.000 per kilogram, bawang merah Rp32.000 per kilogram, dan telur ayam ras Rp25.500 per kilogram. Meski ada kenaikan, daya beli masyarakat masih dinilai tetap stabil.
Prediksi Tren Inflasi Akhir Tahun
Erwin memproyeksikan bahwa tren inflasi akan berlanjut pada November dan Desember 2024, seiring dengan perhelatan Pilkada serta perayaan Natal dan Tahun Baru. Kedua peristiwa tersebut biasanya mendorong peningkatan konsumsi masyarakat.
“Kami mengimbau warga tetap bijak dalam berbelanja sesuai kebutuhan, terutama menghadapi Pilkada dan hari besar di akhir tahun ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Kediri akan terus melakukan pemantauan dan upaya pengendalian harga hingga akhir tahun untuk memastikan keterjangkauan harga bahan pokok di masyarakat.
Data Inflasi Kota Kediri Terendah di Jatim
Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri, Dyah Sari Prihantari, melaporkan bahwa Kota Kediri mengalami inflasi month-to-month (m-to-m) sebesar 0,16 persen dan inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 0,91 persen pada Oktober 2024, yang merupakan inflasi terendah di Jawa Timur.
Kota Kediri mencatat deflasi berturut-turut sejak Mei hingga September 2024, dengan angka mencapai -0,10 persen di September. Namun, inflasi pada Oktober kali ini memutus tren deflasi sebelumnya. Dyah menyebutkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi tertinggi, dengan andil sebesar 0,11 persen.
Penyumbang dan Penghambat Inflasi Oktober 2024
Pada Oktober 2024, komoditas utama penyumbang inflasi di Kediri meliputi daging ayam ras dengan kontribusi inflasi sebesar 0,08 persen, emas perhiasan sebesar 0,07 persen, dan bawang merah sebesar 0,03 persen. Sementara itu, komoditas penghambat inflasi termasuk bensin yang mengalami deflasi sebesar -0,06 persen, beras sebesar -0,02 persen, serta sejumlah komoditas sayuran dan buah-buahan seperti cabai merah, kentang, dan wortel.
Dyah memastikan bahwa stok bahan pokok tetap aman dan tidak perlu dikhawatirkan oleh masyarakat. TPID Kota Kediri juga secara rutin melakukan pemantauan dan menggelar operasi pasar untuk menjaga stabilitas harga.
“Kami terus menggelar operasi pasar murni (OPM) secara berkala agar masyarakat tetap mudah mendapatkan bahan pokok dengan harga yang terjangkau,” pungkas Dyah.







Leave a Reply