Peluit tukang parkir di Jalan Mongonsidi terus bersautan. Satu persatu pengendara sepeda motor meninggalkan jalan tersebut. Dhea Putri salah satunya. Warga asal Kelurahan Ngadisimo, Kota Kediri ini usai pulang dari kota rantauan di Yogyakarta. Bersama keluarganya, Dhea melanjutkan perjalanan dari Jalan Mongonsidi menuju Toko Laksana Jaya yang lebih dikenal Toko Tahu POO di Jalan Yos Sudarso.
Ada dua pilihan makanan ketika Dhea tiba di toko tersebut. Roti bluder dan tahu. Ibu satu anak ini tak banyak pilihan lainnya. Hanya dua makanan itu yang ada dalam keranjang belanjanya. Alasannya, Dhea akan memasak sayur dengan lauk tahu yang dibeli dari toko tersebut. Perempuan dengan kacamata bulat ini memang sudah terbiasa membeli di toko ini sejak kecil.
“Dulu ya diajak orang tua kalau beli oleh-oleh di sini, ada tahu kalau gak ya stik tahu. Jarang kalau beli gethuk pisang,” terang Dhea.
Kawasan Jalan Yos Sudarso, Kota Kediri memang sudah dikenal sebagai pusat industri tahu. Bahkan, menurut beberapa sumber sejarah ada yang menyebutkan tahu sudah ada sejak awal tahun 1912. Warga Kota Kediri sudah tak asing dengan Bah Kacung sebagai keluarga awal yang membawa tahu dari Tiongkok ke Kediri. Lebih dari satu abad, akhirnya kawasan Kelurahan Pakelan ini menjadi pusat tahu di Kota Kediri.
Namun, hanya berjarak 7 kilometer dari Kelurahan Pakelan, ke arah timur Kota Kediri dapat ditemukan sebuah sentra industri tahu juga, yakni di Kelurahan Tinalan. Tepatnya, di Jl Tinalan gang 4 Kota Kediri dikenal sebagai Kampung Wisata Edukasi Industri Tahu. Bahkan, di Kelurahan Tinalan ini juga sempat diresmikan oleh Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar sebagai Kampung Tahu. Seremoni peresmian ini didasari dari penelitian dua kampus di Jawa Timur. Yakni, Universitas Islam Kadiri (Uniska) dan Universitas Negeri Malang (UM) pada April 2019 silam.
Penelitian ini merupakan Program Kemitraan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset Teknologi (Kemendikbudristek) Hibah Kompetitif Nasional. Saat itu, Uniska berkolaborasi dengan UM untuk membuat model pengembangan industri tahu. Dari hasil penelitian tersebut, Kampung Tahu Tinalan diketahui mempunyai sejarah dari Markam, warga Kabupaten Tulungagung yang pindah ke Kota Kediri. Pada tahun 1954, Markam telah memulai produksi di Tinalan gang 4.Hal ini diperjelas Jamaludin, Ketua Paguyuban Kampung Tahu Tinalan. Ia adalah cucu dari Markam atau pelopor industri tahu rumahan di Kelurahan Tinalan. Menurutnya, Kampung Tahu sepanjang 2 kilometer di Tinalan gang 4 itu dimulai dengan dagangan tempe gembos. Dikarenakan, Markam, kakek Jamal, belum memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk membuat tahu seperti di Jalan Yos Sudarso dan Patimura, Kota Kediri.
Namun, karena kegigihannya, Markam bisa mendapatkan pengetahuan dari warga Tionghoa tentang bagaimana cara membuat tahu.
“Akhirnya kakek saya, istilahnya pada waktu itu untuk cari informasi soal tahu di Kota Kediri ini, dengan jualan tempe dulu. Tempe gembos dari ampas tahu, akhirnya bisa masuk ke lokasi, tempat produksinya. Ooo..caranya buat tahu itu seperti ini, seperti itu,” tutur Jamal.
Dari latar belakang inilah, Srikalimah, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Uniska berangkat untuk memulai penelitian yang berjudul “Implementasi Pengembangan Wisata Edukasi Kampung Tahu Tinalan” pada April 2019.
Selama empat bulan, Srikalimah mendalami kekuatan perekonomian dari Tinalan gang 4 ini. Walhasil, ada 34 produsen tahu di Kelurahan Tinalan tersebut. Menurutnya, awal penelitian yang dikerjakan itu untuk membuat model pengembangan kampung wisata edukasi.
“Konsep awal hanya untuk kampung wisata edukasi kampung tahu, bagaimana bila ada orang yang ingin belajar membuat tahu,” terang Srikalimah.
Tak ada maksud membedakan, lanjut Srikalimah, namun ia mengakui industri tahu di Tinalan memang dilakukan oleh pribumi. Bukan seperti di Kelurahan Pakelan yang dibawa oleh imigran Tionghoa. Sehingga, penelitian yang ia lakukan bersama tim hanya untuk membuat model pengembangan bisnis sentra tahu di Tinalan. Tidak ditujukan untuk membuat penelitian sejarah atau antropologi.
Sesuai dengan tujuannya, Srikalimah menyebutkan bahwa setelah adanya penelitian dan peresmian Kampung Tahu Tinalan, ada kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang diouat kelurahan untuk mencoba mengembangkan wisata edukasi.
Dari data yang diperoleh Srikalimah, dari 34 produsen tahu, ada 19 produsen yang tergabung dalam Paguyuban Kampung Tahu Tinalan. Mengapa tidak semuanya masuk dalam paguyuban tersebut?
Mendapatkan pertanyaan ini, Srikalimah menerangkan alasan yang paling kuat ialah persaingan bisnis dan harga antarprodusen Tinalan. Meskipun sudah diresmikan sebagai Kampung Tahu Tinalan, Srikalimah dengan obyektif ada kendala untuk mengembangkannya.
Pertama, kondisi lebar jalan yang kecil. Kedua, tempat pembuangan limbah yang belum tersedia. Terakhir, tidak ada showroom sebagai tempat menampung UMKM produsen di Tinalan. Sehingga, ketiga hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi warga untuk mengembangkan Kampung Tahu Tinalan.
“Dua alasan ini jadi kendala utama setelah ada Kampung Tahu,” imbuh Srikalimah.
Dampak dari akses jalan yang kurang dari dua meter itu membuat agen biro travel enggan untuk mampir ke Kampung Tahu Tinalan. Bila mau ideal, maka akses jalan kelurahan tersebut memang harus diperlebar. Tak hanya itu, Kelurahan Tinalan juga harus memiliki lahan parkir yang cukup luas bagi biro travel.
Upaya branding yang dilakukan Srikalimah pun juga sudah dilakukan. Seperti memasang plengkung lampu, plakat Kampung Tahu, gapura, dan papan informasi sejarah Kampung Tahu.
“Tidak ada tempat parkir, jadi bingung untuk bus dan elf akses jalan. Tidak ada showroom untuk produk tahu,”tandasnya.
Setelah melakukan tiga kali penelitian di Kampung Tahu Tinalan, Srikalimah mempunyai harapan untuk Pemerintah Kota Kediri. Yakni, upaya yang lebih total untuk mengembangkan sentra tahu yang ada sejak 1954 tersebut. Apalagi, ada Prodamas yang bisa digunakan untuk mengembangkan kawasan tersebut.







Leave a Reply