KOTA KEDIRI – Pemerintah Kota Kediri terus berupaya menjaga stabilitas fiskal dan mendorong pembangunan melalui pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Namun, data perbandingan antara pendapatan dan belanja daerah dalam empat tahun terakhir (2021–2024) menunjukkan tren belanja yang konsisten lebih tinggi daripada pendapatan, terutama sejak tahun 2022. Pada tahun 2022–2024 mengalami defisit berturut-turut, terbesar di 2023 sebesar Rp 88 miliar. Pada tahun 2024, defisit menyempit Rp 28 miliar.
Pendapatan dan Belanja Kota Kediri 2021–2024
Berdasarkan data resmi yang dirilis BPS Kota Kediri, berikut adalah perbandingan pendapatan dan belanja daerah dalam kurun waktu empat tahun terakhir:
| Tahun | Pendapatan Daerah | Belanja Daerah |
|---|---|---|
| 2021 | Rp1,48 triliun | Rp1,34 triliun |
| 2022 | Rp1,45 triliun | Rp1,48 triliun |
| 2023 | Rp1,47 triliun | Rp1,56 triliun |
| 2024 | Rp1,53 triliun | Rp1,55 triliun |
Pada tahun 2021, pendapatan Kota Kediri masih lebih besar daripada belanja, yakni Rp1,48 triliun dibanding belanja sebesar Rp1,34 triliun. Namun mulai tahun 2022, terjadi pergeseran di mana belanja daerah melebihi pendapatan, yang berlanjut hingga tahun 2024.
Pada tahun 2021 mengalami surplus sebesara Rp 136 miliar. Sedangkan pada tahun 2022–2024 mengalami defisit berturut-turut, terbesar di 2023 sebesar Rp 88 miliar. Pada tahun 2024, defisit menyempit Rp 28 miliar.
Kondisi selisih belanja yang lebih besar daripada pendapatan daerah, Kemenkeu menyatakan adalah defisit APBD. Yakni, merupakan selisih kurang antara Pendapatan Daerah dan Belanja Daerah pada tahun anggaran yang sama. Defisit terjadi bila jumlah pendapatan lebih kecil daripada jumlah belanja.







Leave a Reply