JEMBER – Ketersediaan dokter spesialis di Kabupaten Jember masih jauh dari ideal. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, dari total kebutuhan sekitar 600 dokter spesialis, hingga saat ini baru terpenuhi sebanyak 198 orang. Kondisi ini menimbulkan tantangan serius dalam pelayanan kesehatan masyarakat, terutama di rumah sakit milik pemerintah daerah.
Kepala Dinas Kesehatan Jember, Hendro Soelistijono, mengungkapkan bahwa standar ideal berdasarkan ketentuan Kementerian Kesehatan adalah 0,28 dokter spesialis per 1.000 penduduk. Mengacu pada jumlah penduduk Jember yang besar, ketersediaan tenaga medis saat ini dinilai belum memadai. “Dengan mengacu pada jumlah penduduk di Kabupaten Jember yang besar, maka jumlah dokter spesialis yang ada saat ini belum ideal,” ujar Hendro, Senin (12/5/2025).
Untuk mengatasi krisis ini, Bupati Jember Muhammad Fawait telah menugaskan Dinkes melakukan percepatan pemenuhan kebutuhan dokter spesialis. Fokus penempatan ditujukan pada tiga Rumah Sakit Daerah (RSD) milik Pemkab. Dinkes Jember juga menjalin komunikasi intensif dengan Kementerian Kesehatan dan sejumlah universitas untuk menjadikan Jember sebagai lokasi praktik bagi calon dokter spesialis. “Kami sudah menjalin komunikasi bersama pemerintah pusat dan beberapa universitas untuk menawarkan Kabupaten Jember sebagai tempat praktik bagi dokter spesialis,” kata Hendro.
Meski regulasi saat ini memperbolehkan dokter praktik di beberapa lokasi sekaligus, aturan itu belum cukup efektif untuk menutup kekurangan spesialis di daerah. Beberapa bidang medis bahkan mengalami kelangkaan signifikan, seperti spesialis bedah kosmetik, bedah toraks, uronefrologi, hingga kardiologi. “Beberapa bidang seperti kasus stroke dan jantung, kebutuhan semakin mendesak, karena itu merupakan layanan prioritas,” tegasnya.
Pihak Dinkes juga menyoroti pentingnya peningkatan kesejahteraan dokter, mengingat beban kerja yang tinggi akibat kekurangan personel. Hendro menyatakan, pihaknya telah mengajukan rekomendasi agar jasa pelayanan medis disesuaikan dengan volume kerja dokter spesialis yang menangani banyak kasus sekaligus. “Kami memberikan rekomendasi agar jasa pelayanan disesuaikan dengan beban kerja yang tinggi dokter-dokter spesialis di lingkungan Dinkes Jember,” ujarnya.
Hendro juga menyampaikan harapan besar terhadap percepatan pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit (hospital-based). Kebijakan ini, menurutnya, sejalan dengan langkah pemerintah pusat untuk mempercepat kelulusan tenaga medis spesialis guna memenuhi kebutuhan layanan prioritas di berbagai daerah.







Leave a Reply