Perubahan Iklim Picu Kekeringan, 90 Desa di Lamongan Terancam
LAMONGAN – Dampak perubahan iklim dan kemarau panjang semakin dirasakan di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Hingga akhir Agustus 2024, sebanyak 12 desa dan 19 dusun telah melaporkan mengalami kekeringan parah. Kondisi ini diprediksi akan semakin meluas, mengancam 90 desa dan 182 dusun di 15 kecamatan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan, Joko Raharto, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pendataan dan pemetaan terhadap wilayah-wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan. “Saat ini, lima kecamatan sudah melaporkan kondisi kritis akibat kekeringan. Kami terus memantau perkembangan dan bersiap melakukan langkah-langkah mitigasi,” ujar Joko pada Jumat (30/8).
BPBD Lamongan telah menetapkan status siaga darurat sejak Juni 2024 sesuai dengan peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Langkah awal yang telah dilakukan adalah mendistribusikan air bersih ke wilayah-wilayah terdampak. “Suplai air bersih menjadi prioritas utama, dan kami bekerja sama dengan berbagai organisasi kemasyarakatan untuk memastikan distribusinya berjalan lancar,” jelasnya.
Joko menekankan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi bencana ini. “Gotong royong menjadi kunci dalam penanganan bencana. Kami dibantu oleh Baznas, PKK, perusahaan daerah, dan juga individu dalam mendistribusikan air bersih kepada warga yang membutuhkan,” tambahnya.
Meski demikian, prediksi mengenai kapan berakhirnya kemarau panjang masih belum bisa dipastikan. Joko mengingatkan bahwa tahun 2023 lalu, BPBD Lamongan harus terus mendistribusikan air bersih hingga akhir tahun. “Selama masih ada warga yang terdampak, kami akan terus melakukan droping air bersih,” tegasnya.







Leave a Reply