JAKARTA – Cerita Panji, kisah klasik yang berasal dari era Kerajaan Kediri dan Majapahit, kembali menjadi sorotan dalam dunia pendidikan dan kebudayaan nasional. Prof. Wardiman Djojonegoro, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, menegaskan bahwa nilai-nilai dalam kisah Panji memiliki relevansi kuat dengan pendidikan karakter serta pelestarian budaya yang seharusnya diperkuat dalam kurikulum nasional.
Cerita Panji sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO
Sejak diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO pada tahun 2017, Cerita Panji semakin dianggap penting dalam konteks sejarah dan kebudayaan nasional. Kisah ini menggambarkan perjalanan Raden Panji Inukertapati dalam mencari cinta sejatinya, Dewi Sekartaji, yang sarat dengan nilai kesetiaan, kepemimpinan, serta kebijaksanaan.
Menurut Prof. Wardiman, keberadaan Cerita Panji bukan sekadar legenda, tetapi juga mencerminkan sistem pendidikan moral yang kuat. “Cerita Panji mengandung pesan tentang kepemimpinan yang bijaksana, perjuangan tanpa kenal menyerah, serta nilai gotong royong yang menjadi ciri khas budaya Nusantara. Semua ini sangat relevan dengan penguatan karakter dalam dunia pendidikan kita,” ujarnya.
Integrasi Cerita Panji dalam Kurikulum Pendidikan Nasional
Dalam berbagai kesempatan, Prof. Wardiman telah mengusulkan agar Cerita Panji lebih diintegrasikan dalam kurikulum nasional, terutama dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Seni Budaya.
Saat ini, kurikulum Merdeka Belajar yang diterapkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah memberikan ruang lebih luas bagi pengajaran budaya lokal. Namun, cerita-cerita rakyat seperti Panji masih kurang terekspos dibandingkan kisah-kisah luar negeri.
“Pendidikan harus berbasis akar budaya sendiri. Kalau kita ingin membangun karakter bangsa, maka cerita-cerita seperti Panji perlu diajarkan kepada anak-anak sejak dini,” kata Prof. Wardiman.
Beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan untuk mengintegrasikan Cerita Panji dalam pendidikan antara lain:
- Menjadikan Cerita Panji sebagai bagian dari bahan ajar literasi di tingkat SD dan SMP.
- Mengembangkan seni pertunjukan berbasis cerita Panji dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah.
- Mengadaptasi kisah Panji dalam bentuk media digital, seperti animasi, buku digital, dan permainan edukatif.
Menanamkan Nilai Budaya melalui Cerita Panji
Selain sebagai materi pelajaran, Prof. Wardiman menilai bahwa Cerita Panji dapat menjadi alat untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang selaras dengan Pancasila. Di dalamnya terdapat ajaran tentang cinta tanah air, kesetiaan, serta keberanian dalam menghadapi tantangan.
“Anak-anak kita lebih mengenal tokoh-tokoh fiksi luar negeri daripada tokoh dalam sejarah dan budaya sendiri. Ini menjadi tantangan bagi dunia pendidikan untuk mengemas ulang cerita-cerita lokal agar lebih menarik dan dekat dengan generasi muda,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa pelestarian Cerita Panji bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat dan dunia pendidikan. Sinergi antara akademisi, seniman, dan praktisi pendidikan sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa warisan budaya ini tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.
Cerita Panji bukan sekadar dongeng masa lalu, tetapi memiliki nilai pendidikan yang mendalam dan relevan dengan pembentukan karakter bangsa. Prof. Wardiman Djojonegoro menegaskan bahwa mengintegrasikan cerita Panji dalam kurikulum nasional dapat menjadi strategi efektif dalam menanamkan nilai budaya dan sejarah kepada generasi muda. Dengan inovasi dalam pengajaran dan pemanfaatan teknologi, kisah Panji bisa menjadi salah satu pilar pendidikan kebudayaan Indonesia di era modern.







Leave a Reply