Menu

Mode Gelap

News · 4 Mar 2025 19:05 WIB ·

Moestopo, Jenderal Pemberani Asal Kediri yang Nantangin Belanda


 Moestopo, Jenderal Pemberani Asal Kediri yang Nantangin Belanda Perbesar

Jakarta – Mayor Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Moestopo bukan sekadar tentara biasa. Lahir di Ngadiluwih, Kediri, pada 13 Juni 1913, ia dikenal sebagai sosok pejuang yang nyentrik dan penuh strategi unik dalam menghadapi penjajah. Dari mengorganisir preman hingga menggunakan taktik perang gerilya, Moestopo menjadi salah satu komandan yang paling disegani pada masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia.

Dari Dokter Gigi ke medan Perang

Sebelum menjadi pejuang, Moestopo adalah seorang dokter gigi lulusan STOVIT (School Tot Opleiding van Indische Tandartsen) di Surabaya. Namun, invasi Jepang mengubah jalannya. Ia bergabung dengan militer dan menjadi salah satu lulusan terbaik PETA (Pembela Tanah Air), satu angkatan dengan Jenderal Soedirman dan Gatot Soebroto.

Pada 1942, ia ditangkap tentara Jepang karena dicurigai sebagai mata-mata Belanda, tetapi kemudian dibebaskan. Setelah itu, ia ditugaskan sebagai komandan pasukan pribumi di Gresik dan Surabaya. Tidak banyak orang Indonesia yang mendapatkan posisi ini, dan Moestopo adalah salah satu dari sedikit yang dipercaya.

Moestopo vs Sekutu: Perang dengan Taktik Nyeleneh

Setelah Indonesia merdeka, Moestopo memainkan peran penting dalam pertempuran melawan tentara Sekutu yang berusaha mengembalikan kekuasaan Belanda. Ia memimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan mengatur strategi perang kota di Surabaya, yang hampir melumpuhkan Brigade 49 Inggris pada 1945.

Salah satu taktik uniknya adalah membentuk pasukan non-konvensional. Ia merekrut preman, copet, maling, bahkan wanita tuna susila untuk melakukan sabotase dan mengumpulkan intelijen dari pihak musuh. Barisan ini dikenal sebagai Barisan Maling (BM) dan Barisan Wanita Pelacur (BWP).

Moestopo juga menggunakan cara ekstrem lainnya, seperti membakar ujung bambu runcing, mencelupkannya ke dalam kotoran kuda agar musuh yang tertusuk terkena tetanus. Bahkan, ia mengajarkan pasukannya makan daging kucing karena diyakini dapat meningkatkan kemampuan penglihatan dalam gelap.

Berseteru dengan Hatta: Antara Diplomasi dan Perang

Moestopo adalah sosok yang keras menentang negosiasi dengan Belanda. Sikap ini membawanya bersitegang dengan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Dalam sebuah pertemuan di Kantor Gubernur Jawa Timur pada November 1945, Hatta menyebut Moestopo sebagai ekstremis.

“Memang, saya ekstremis, saya pemberontak. Bukankah lebih baik menjadi pemberontak, mati dalam perjuangan, daripada dijajah bangsa asing lagi?” jawab Moestopo dengan tegas.

Konflik dengan Hatta berujung pada keputusan Presiden Soekarno untuk menarik Moestopo dari medan perang dan mengangkatnya sebagai Penasihat Agung Presiden Republik Indonesia di Jakarta. Namun, jiwanya yang tidak bisa diam membuatnya kembali turun ke lapangan.

Divisi Ayam Jago dan Perang Gerilya

Di Yogyakarta, Moestopo memimpin Divisi Ayam Jago, yang mengambil inspirasi dari satuan tempur Inggris “The Fighting Cock.” Markas divisinya berada di dalam kereta api agar bisa bergerak cepat ke berbagai medan perang. Ia juga menerapkan strategi penyamaran dan psywar untuk membingungkan musuh, termasuk menyebarkan isu mistis bahwa mereka adalah pasukan titisan Pangeran Diponegoro.

Namun, pada 1949, ketika Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar (KMB), Moestopo tetap menolak kebijakan diplomasi. Ia berusaha menggalang perlawanan gerilya, tetapi rencananya gagal.

Kembali ke Dunia Pendidikan dan Gelar Pahlawan Nasional

Pasca perang, Moestopo kembali menekuni profesinya sebagai dokter gigi dan akademisi. Ia mendirikan Dr. Moestopo Dental College pada 1958, yang berkembang menjadi Universitas Prof. Dr. Moestopo pada 1961. Selain itu, ia juga aktif di MPRS dan berbagai lembaga sosial.

Moestopo meninggal pada 29 September 1986 di Bandung. Atas jasanya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2007.

Nama Moestopo tetap dikenang sebagai jenderal pemberani yang tidak segan melawan penjajah dengan cara-cara yang tidak biasa, tetapi efektif. Ia bukan hanya seorang pejuang, tetapi juga seorang visioner yang meninggalkan warisan besar bagi Indonesia.

 

Artikel ini telah dibaca 46 kali

badge-check

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Lainnya

Pemkot Kediri Tindaklanjuti Ekosistem Halal, Cek Lokasi Sembelih Unggas di Pasar Banjaran

4 June 2025 - 18:38 WIB

oktana.co.id

Penguatan Ekosistem Halal, Kolaborasi Pemkot Kediri dan BI Gelar Pelatihan Juleha Unggas

3 June 2025 - 19:44 WIB

oktana.co.id

IAIN Kediri Resmi Berubah Menjadi UIN Syekh Wasil

26 May 2025 - 11:41 WIB

oktana.co.id

Kota Kediri Pesta Gol 6-0 di Laga Perdana Pra Porprov Jatim IX 2025

23 May 2025 - 11:44 WIB

oktana.co.id

Lifter Asal Kediri, Bima Aji Ramadhani Sumbang 1 Perak dan 2 Perunggu di Kejurnas Angkat Besi Senior 2025

19 May 2025 - 11:46 WIB

oktana.co.id

Hari Buku Nasional, Terungkap Penerbit Buku Tertua di Indonesia Berasal dari Kediri

17 May 2025 - 12:10 WIB

oktana.co.id
Trending di Lifestyle