MALANG – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Malang 2024 diprediksi akan berjalan tanpa dominasi calon tunggal. Pengamat politik dari Universitas Brawijaya (UB), Andhyka Muttaqin, menilai bahwa tidak ada bakal calon yang dominan, mengingat absennya petahana Sutiaji dari kontestasi.
“Dengan Pak Sutiaji tidak mencalonkan kembali, persaingan bakal lebih terbuka. Jika Sutiaji mencalonkan, ia bisa menjadi sosok dominan,” kata Andhyka dalam diskusi bersama media di Malang, Kamis malam (13/9).
Andhyka, yang juga Ketua Tim Peneliti Perilaku Pemilih di Era Digital UB, menjelaskan bahwa meski survei menempatkan Moch Anton (Abah Anton) sebagai salah satu calon kuat, status hukumnya terkait kasus korupsi saat menjabat Wali Kota Malang periode 2013-2018 masih menjadi perdebatan. Situasi ini membuka peluang bagi calon lain untuk memenangi Pilkada Kota Malang.
“Tidak ada calon dominan berarti setiap pasangan calon memiliki peluang yang sama. Kuncinya adalah bagaimana tim pemenangan mereka mampu memilih strategi yang tepat,” tambahnya.
Andhyka menyoroti pentingnya memahami karakteristik pemilih di Kota Malang untuk merancang strategi kampanye yang efektif. Ia menjabarkan tujuh karakteristik pemilih di Kota Malang, termasuk pemilih tradisional yang loyal pada partai politik, dan pemilih rasional yang mempertimbangkan program, visi, dan misi kandidat.
Pemilih patronase, menurut Andhyka, juga memiliki pengaruh besar, khususnya karena pengaruh tokoh agama dari kalangan NU dan Muhammadiyah. Ada pula pemilih yang mempertimbangkan politik uang dan pemilih muda yang kritis terhadap calon dan cenderung memilih berdasarkan isu-isu yang relevan dengan mereka.
Selain itu, Andhyka juga menyoroti peran pemilih swing voter, yang belum memutuskan pilihan dan cenderung kritis terhadap isu lokal serta kebijakan calon kepala daerah.
Sementara itu, Ketua Bidang Kerja Sama Badan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UB, Novy Setia Yunas, menambahkan bahwa terdapat empat subkultur masyarakat di Jawa Timur yang mempengaruhi perilaku politik, yakni Matraman, Arek, Tapal Kuda, dan Madura. Subkultur Arek yang meliputi Malang memiliki karakteristik swing voter yang tinggi.
Perkembangan teknologi informasi yang pesat juga disebut mengubah dinamika sosial-politik. Kampanye berbasis teknologi dan media sosial dinilai akan menjadi pendekatan yang dominan dalam Pilkada 2024. Model kampanye kreatif yang menyasar anak muda, menurut Novy, akan menjadi pola baru yang diadopsi oleh para kontestan.
Pilkada Kota Malang 2024 akan diikuti oleh tiga pasangan bakal calon, yaitu Moch Anton-Dimyati Ayatullah, Wahyu Hidayat-Ali Muthohirin, dan Heri Cahyono-Ganis Rumpoko. Wahyu Hidayat dan Ali didukung oleh 14 partai politik, termasuk Gerindra, NasDem, PKS, dan Golkar. Sementara Anton-Dimyati diusung PKB, Demokrat, PAN, dan Partai Ummat. Heri Cahyono-Ganis Rumpoko diusung oleh PDI Perjuangan.







Leave a Reply